Tag Archives: ratna megawangi

Home / ratna megawangi
1 Post
Pendidikan karakter, pentingnya pendidikan karakter

Anak-anak yang tumbuh pada lingkungan yang berkarakter, akan tumbuh menjadi pribadi yang berkarakter, sehingga fitrah anak yang dilahirkan suci dapat berkembang secara optimal. Untuk mencapai ini memerlukan usaha yang menyeluruh yang dilakukan oleh semua pihak keluarga terutama orang tua, sekolah dan juga komponen-komponen yang terdapat dalam masyarakat secara keseluruhan seperti lembaga keagamaan (mesjid, gereja dan sebagainya) perkumpulan olah raga, komunitas dan lain sebagainya.
Ibarat sebuah pohon yang masih kecil yang mempunyai potensi menjadi pohon yang besar, merawatnya dengan penuh kasih sayang adalah hal yang sangat esensial. Ketika pohon sedang tumbuh di sekelilingnya pasti akan tumbuh rumput rumput gulma yan akan menganggu pohon tersebut untuk menjadi kokoh. Bahkan pertumbuhan gulma akan menjadi lebih cepat dan lebih mudah tumbuh besar dibandingkan pohon itu. Kita ibaratnya tukang kebun yang merawat pohon itu, harus terus memusnahkan gulma tersebut, juga mencabutnya ketika gulma itu masih kecil. Jika tidak, pohon yang sedang kita rawat akan tumbuh kecil dan tidak dapat menjadi pohon yang kokoh seperti yang kita inginkan.
Begitu pula pada manusia, anak anak dengan fitrahnya yang bersih namun dalam proses tumbuh kembangnya pasti akan dikelilingi oleh gulma gulma (sifat sifat buruk) yang berusaha tumbuh menyaingi pertumbuhan fitrah tersebut. Sebagai “perawat kebun” tentunya kita harus waspada dengan hal ini. Maka sejak usia dini anak harus dibesarkan dan dididik dengan nilai nilai yang akan menyuburkan fitrah (kesucian manusia) untuk tumbuh kokoh.
Menurut IBNU JAZZAR AL-QAIRAWANI “ sebenarnya sifat sifat buruk yang timbul dari diri anak bukanlah lahir dari fitrah mereka. Sifat sifat tersebut lahir karena kurangnya peringatan sejak dini dari orang tua dan para pendidik(guru). Semakin dewasa usia anak semakin sulit pula baginya untuk meninggalkan sifat sifat buruk tersebut. Banyak sekali orang dewasa yang menyadari sifat sifat buruknya, tetapi tidak mampu untuk mengubahnya. Karena sifat sifat buruk tersebut sudah kuat mengakar dalam dirinya dan menjadi kebiasaan yang sulit untuk ditingalkan. Maka berbahagialah para orang tua yang selalu memperingatkan dan mencegah anaknya dari sifat sifat buruk sejak dini, dengan demikian mereka telah menyiapkan dasar kuat bagi kehidupan anak di masa dating.
Pendidikan moral pada usia dini harus dilakukan sejak anak itu lahir, dan di usia di bawah 2 tahun dapat dilakukan dengan hanya memberikan kasih sayang sebesar-besarnya kepada anak. Menurut Thomas lickona “Love light the lamp of human development. Therefore If we wish to raise good children, then we should begin by giving them our love”. Dalam hal ini Seperti di ibaratkan sebuah bejana kosong kalau di isi air “cinta dan kasih sayang” maka bejana tersebut hanya berisi air kesucian. Ketika anak dewasa, bejana (hati) ini hanya akan menebarkan kesucian dan kebajikan dalam perjalanan hidupnya. Apabila yang sering mereka dengar dan terima adalah umpatan, contoh atau nilai yang buruk maka sifat-sifat seperti inilah yang akan ditebarkan dalam perjalanan hidupnya. Maka dari itu orang tua khususnya ibu perlu sekali untuk mencium, memberikan kata kata yang manis dan mendendangkan cinta kepada bayi bayi mereka.

Pendidikan karakter, pentingnya pendidikan karakter

Apabila masa usia 2 tahun pertama anak sudah mendapatkan cinta, maka akan sangat mudah anak tersebut dibentuk menjadi manusia yang berakhlak mulia. Dan dari hasil penelitian. Anak anak usia 2 tahun sudah dapat diajarkan nilai nilai moral, bahkan mereka sudah mempunyai perasaan empati terhadap kesulitan atau penderitaan orang lain. Misalnya ketika ia melihat raut wajah ibunya yang sedih ia dapat mengekspresikan empatinya. Dinyatakan bahwa rasa empati adalah sifat alami yang sudah ada sejak anak dilahirkan yang merupakan sumber moralitas individu seperti rasa iba dan rasa ingin berbuat baik termasuk perasaan bersalah dan malu kalau melakukan hal hal yang tidak baik. Sedangkan bagaiman perasaan empati dapat terus tumbuh subur adalah tergantung dari emotional bonding dengan ibunya pada usia awal kehidupan seorang anak.
Seorang anak yang siap memasuki usia sekolah menurut GILLIGAN harus sudah dibekali dengan kesadaran emosi seperti rasa malu, rasa bersalah, perasaan disakiti, bangga dan sebagainya. Sehingga anak-anak pada usia prasekolah harus sudah dapat membedakan beberapa jenis emosi yang dirasakannya sehingga mereka tidak menjadi bingung tentang nilai nilai emosi yang dirasakan oleh mereka. Misalnya seorang anak yang merasa iba terhadap seorang anak yang dikucilkan, akan tetapi seluruh kawan kawannya mengejek anak tersebut. Disini si anak akan mempunyai rasa ambivalen antara rasa empati dan rasa takut untuk dikatakan pengecut karena tidak mau terlibat untuk terus mengejek anak yang dikucilkan tersebut. Dalam hal ini anak harus tahu bahwa merasa empati kepada anak yang dikucilkan adalah perasaan yang lebih baik yang harus dituruti.
Oleh karena itu pendidikan karakter disekolah terutama pada usia TK dan SD juga perlu dilakukan, dan tentunya disesuaikan dengan tahap perkembangan umur anak. Pendidikan Karakter berbeda dengan pendidikan moral pancasila yang selama ini dilakukan yang hanya menyentuh aspek akademik (hafalan dan pengetahuan saja), tetapi tidak melibatkan aspek emosi (feeling) dan perilaku (acting)

(Ditulis oleh Ratna Megawangi, Dosen dan Founder Yayasan Warisan Luhur Indonesia, founder Pendidikan Holistik Berbasis Karakter)