Tag Archives: karakter anak

Home / karakter anak
3 Posts

Setidaknya ada enam kesalahan orang tua dalam mendidik anak yang mempengaruhi perkembangan emosi seorang anak :

  1. Orang tua kurang menunjukkan ekspresi kasih sayang baik secara verbal dan fisik. Anak perlu mendapatkan kata kata sayang, pujian, cerita, nyanyian dan humor yang membuatnya terhibur. Seorang ibu harus selalu hangat kepada anaknya sejak dia dilahirkan. Ibu harus senantiasa mengadakan kontak mata dan fisik dengan anaknya. Prosesnya biasanya melalui penyusuan, mengganti popok dan bermain. Anak membutuhkan ciuman, belaian, pandangan mata mesra dan juga pelukan. Ekspresi ini sangat diperlukan terutama bagi anak balita. Hal ini akan memberikan rasa aman. Dia akan merasa diterima dan diberi dukungan.
  2. Orang tua kurang meluangkan waktu yang cukup bagi anak. Ada anggapan bahwa kualitas kebersamaaan dengan anak jauh lebih baik dibandingkan dengan kuantitas waktunya. Namun kualitas kebersamaan yang baik tidak dapat terwujud jika orang tua kurang meluangkan waktu dengan anak-anaknya. Ukuran kualitas dan kuantitas dinilai dari seberapa besar anak merasa diperhatikan orang tuanya.
  3. Orang tua bersikap kasar secara verbal misalnya menyindir, mengecilkan anak dan berkata kasar. Kata-kata kasar akan membuat anak merasa tidak berguna dan minder. Anak akan mengadopsi sifat tersebut sehingga ia menjadi anak yang kasar pula.
  4. Orang tua bersifat kasar secara fisik. Misalnya memukul, mencubit dan memberikan hukuman badan lainnya. Orang tua berasumsi tingkah laku agresif anaknya dapat dihilangkan dengan hukuman badan. Padahal menurut para pakar pukulan dan kata kata kasar yang diucapkan justru akan meningkatkan agresivitas anak.
  5. Orang tua terlalu memaksa anaknya supaya menguasai kemampuan kognitif. Salah satu caranya memasukkan anak ke sekolah formal SD pada usia lima tahun. Periode early childhood pada tahapan pertumbuhan anak berakhir pada usia enam hingga tujuh tahun. Pada usia ini perkembangan otak telah mencapai tingkat kompleksitas mirip orang dewasa. Maka pada usia inilah anak sudah siap masuk SD yang memiliki sistim formal terstruktur. Selain itu anak sudah senang berkumpul kumpul dengan kawan kawannya diluar lingkungan keluarga. Sedangkan pada usia lima tahun kebawah umumnya anak belum mencapai tingkat kematangan ini. Jika dipaksakan anak akan merasa tertekan menghadapi pelajaran. Pada akhirnya hal ini akan mempengaruhi rasa percaya diri mereka.
  6. Orang tua tidak menambah good caracter atau karakter yang baik kepada anak. Sebahagian orang tua menganggap apabila anak sudah bisa mengaji atau belajar agama dengan sendirinya dia akan memiliki moral yang baik. Padahal pengetahuan agama tidak menjamin seorang anak bertingkah laku baik. Karena itu karakter baik seperti kejujuran, kasih sayang, tanggung jawab adil, dsb harus diberikan sejak usia dini.

Komunitas Koral Ciliwung NIKOCI

Pendidikan karakter, pentingnya pendidikan karakter

DAMPAK NEGATIF AKIBAT KESALAHAN ORANG TUA

 Anak menjadi acuh tak acuh tidak membutuhkan orang lain serta sulit menerima persahabatan. Hal Ini terjadi karena sejak kecil dia memendam kemarahan, rasa tidak percaya dan gangguan emosi negatif lainnya. Akibatnya saat dewasa dia cenderung menolak orang orang disekitarnya. Dia kelihatan sangat mandiri tetapi tidak hangat kepada orang lain.

  1. Anak tidak memiliki respon emosi yang positif. Anak yang ditolak sulit memberikan cinta kepada orang lain.
  2. Perilakunya agresif suka menyakiti orang lain secara verbal atau fisik.
  3. Minder merasa dirinya tidak berharga dan berguna
  4. Selalu memandang lingkungannya secara negatif. Dia merasa dirinya tidak aman, khawatir, minder, curiga dan sulit mempercayai orang lain.
  5. Emosinya tidak stabil. Cirinya dia tidak toleran, tidak tahan terhadap stress, mudah tersinggung, mudah marah, dan sikapnya sering tidak terduga.
  6. Perkekmbangan emosional dan intelektualnya tidak seimbang. Dampaknya seperti mogok belajar, kenakalan remaja, tawuran dsb.

Penulis : Ratna Megawangi (Indonesian Heritage Foundation)

Beli Indonesia !

Pendidikan karakter, pentingnya pendidikan karakter

Anak-anak yang tumbuh pada lingkungan yang berkarakter, akan tumbuh menjadi pribadi yang berkarakter, sehingga fitrah anak yang dilahirkan suci dapat berkembang secara optimal. Untuk mencapai ini memerlukan usaha yang menyeluruh yang dilakukan oleh semua pihak keluarga terutama orang tua, sekolah dan juga komponen-komponen yang terdapat dalam masyarakat secara keseluruhan seperti lembaga keagamaan (mesjid, gereja dan sebagainya) perkumpulan olah raga, komunitas dan lain sebagainya.
Ibarat sebuah pohon yang masih kecil yang mempunyai potensi menjadi pohon yang besar, merawatnya dengan penuh kasih sayang adalah hal yang sangat esensial. Ketika pohon sedang tumbuh di sekelilingnya pasti akan tumbuh rumput rumput gulma yan akan menganggu pohon tersebut untuk menjadi kokoh. Bahkan pertumbuhan gulma akan menjadi lebih cepat dan lebih mudah tumbuh besar dibandingkan pohon itu. Kita ibaratnya tukang kebun yang merawat pohon itu, harus terus memusnahkan gulma tersebut, juga mencabutnya ketika gulma itu masih kecil. Jika tidak, pohon yang sedang kita rawat akan tumbuh kecil dan tidak dapat menjadi pohon yang kokoh seperti yang kita inginkan.
Begitu pula pada manusia, anak anak dengan fitrahnya yang bersih namun dalam proses tumbuh kembangnya pasti akan dikelilingi oleh gulma gulma (sifat sifat buruk) yang berusaha tumbuh menyaingi pertumbuhan fitrah tersebut. Sebagai “perawat kebun” tentunya kita harus waspada dengan hal ini. Maka sejak usia dini anak harus dibesarkan dan dididik dengan nilai nilai yang akan menyuburkan fitrah (kesucian manusia) untuk tumbuh kokoh.
Menurut IBNU JAZZAR AL-QAIRAWANI “ sebenarnya sifat sifat buruk yang timbul dari diri anak bukanlah lahir dari fitrah mereka. Sifat sifat tersebut lahir karena kurangnya peringatan sejak dini dari orang tua dan para pendidik(guru). Semakin dewasa usia anak semakin sulit pula baginya untuk meninggalkan sifat sifat buruk tersebut. Banyak sekali orang dewasa yang menyadari sifat sifat buruknya, tetapi tidak mampu untuk mengubahnya. Karena sifat sifat buruk tersebut sudah kuat mengakar dalam dirinya dan menjadi kebiasaan yang sulit untuk ditingalkan. Maka berbahagialah para orang tua yang selalu memperingatkan dan mencegah anaknya dari sifat sifat buruk sejak dini, dengan demikian mereka telah menyiapkan dasar kuat bagi kehidupan anak di masa dating.
Pendidikan moral pada usia dini harus dilakukan sejak anak itu lahir, dan di usia di bawah 2 tahun dapat dilakukan dengan hanya memberikan kasih sayang sebesar-besarnya kepada anak. Menurut Thomas lickona “Love light the lamp of human development. Therefore If we wish to raise good children, then we should begin by giving them our love”. Dalam hal ini Seperti di ibaratkan sebuah bejana kosong kalau di isi air “cinta dan kasih sayang” maka bejana tersebut hanya berisi air kesucian. Ketika anak dewasa, bejana (hati) ini hanya akan menebarkan kesucian dan kebajikan dalam perjalanan hidupnya. Apabila yang sering mereka dengar dan terima adalah umpatan, contoh atau nilai yang buruk maka sifat-sifat seperti inilah yang akan ditebarkan dalam perjalanan hidupnya. Maka dari itu orang tua khususnya ibu perlu sekali untuk mencium, memberikan kata kata yang manis dan mendendangkan cinta kepada bayi bayi mereka.

Pendidikan karakter, pentingnya pendidikan karakter

Apabila masa usia 2 tahun pertama anak sudah mendapatkan cinta, maka akan sangat mudah anak tersebut dibentuk menjadi manusia yang berakhlak mulia. Dan dari hasil penelitian. Anak anak usia 2 tahun sudah dapat diajarkan nilai nilai moral, bahkan mereka sudah mempunyai perasaan empati terhadap kesulitan atau penderitaan orang lain. Misalnya ketika ia melihat raut wajah ibunya yang sedih ia dapat mengekspresikan empatinya. Dinyatakan bahwa rasa empati adalah sifat alami yang sudah ada sejak anak dilahirkan yang merupakan sumber moralitas individu seperti rasa iba dan rasa ingin berbuat baik termasuk perasaan bersalah dan malu kalau melakukan hal hal yang tidak baik. Sedangkan bagaiman perasaan empati dapat terus tumbuh subur adalah tergantung dari emotional bonding dengan ibunya pada usia awal kehidupan seorang anak.
Seorang anak yang siap memasuki usia sekolah menurut GILLIGAN harus sudah dibekali dengan kesadaran emosi seperti rasa malu, rasa bersalah, perasaan disakiti, bangga dan sebagainya. Sehingga anak-anak pada usia prasekolah harus sudah dapat membedakan beberapa jenis emosi yang dirasakannya sehingga mereka tidak menjadi bingung tentang nilai nilai emosi yang dirasakan oleh mereka. Misalnya seorang anak yang merasa iba terhadap seorang anak yang dikucilkan, akan tetapi seluruh kawan kawannya mengejek anak tersebut. Disini si anak akan mempunyai rasa ambivalen antara rasa empati dan rasa takut untuk dikatakan pengecut karena tidak mau terlibat untuk terus mengejek anak yang dikucilkan tersebut. Dalam hal ini anak harus tahu bahwa merasa empati kepada anak yang dikucilkan adalah perasaan yang lebih baik yang harus dituruti.
Oleh karena itu pendidikan karakter disekolah terutama pada usia TK dan SD juga perlu dilakukan, dan tentunya disesuaikan dengan tahap perkembangan umur anak. Pendidikan Karakter berbeda dengan pendidikan moral pancasila yang selama ini dilakukan yang hanya menyentuh aspek akademik (hafalan dan pengetahuan saja), tetapi tidak melibatkan aspek emosi (feeling) dan perilaku (acting)

(Ditulis oleh Ratna Megawangi, Dosen dan Founder Yayasan Warisan Luhur Indonesia, founder Pendidikan Holistik Berbasis Karakter)

Sekolah Karakter

Sekolah Karakter

Banyak pakar mengatakan bahwa kunci sukses keberhasilan suatu negara sangat ditentukan oleh sejauh mana masyarakatnya mempunyai karakter yang kondusif untuk bisa maju yaitu yang disebut “modal social” (social capital). Jadi bukan ditentukan banyaknya sumber daya alam, luas geografis atau jumlah penduduk suatu negara, karena banyak negara yang kaya sumber daya alam , atau luas wilayahnya besar serta berpenduduk banyak tetapi masih dalam kategori sebagai negara miskin, dan masih tertinggal jauh.
Konsep “modal social” ini pertama kali dikenalkan oleh Francis fukuyama (trust the social virtues, and the creation of prosperity, 1995 ), Dalam buku ini Fukuyama menguraikan ciri budaya sebuah masyarakat yang mempunyai keunggulan dalam persaingan global. Fukuyama juga menyatakan persaingan yang ada dewasa ini bukan persaingan antar sistim ideology , tetapi persaingan antar negara yang mempunyai social capital (modal social) tinggi (high trust society) dengan negara yang mempunyai modal social rendah(low trust society). Negara dengan modal social rendah akan kalah dalam persaingan global. Negara yang mempunyai modal sosial tinggi adalah masyarakat yang kebersamaannya tinggi, mempunyai rasa saling percaya (baik vertikal maupun horizontal), serta memiliki tingkat konflik yang rendah.Hal ini bisa terwujud jika tiap individu menjunjung tinggi kebersamaan, kejujuran, kerja keras, dan menjalankan kewajibannya.
Hal senada diungkapkan oleh Thomas Lickona , bahwa kualitas karakter suatu masyarakat dicirikan dari kualitas karakter penduduk berumur mudanya, generasi muda ini dapat menjadi indikator penting apakah sebuah bangsa menjadi maju atau tidak. Lickona mengidentifikasikan sebanyak 10 tanda dari karakter generasi muda yang patut dicemaskan karena akan membuat sebuah bangsa tenggelam dalam kehancuran.
Kesepuluh tanda tersebut adalah :

(1) meningkatnya kekerasan dikalangan remaja,

(2) pengunaan bahasa dan kata kata yang memburuk,

(3) pengaruh peer- group yang kuat dalam tindak kekerasan,

(4) meningkatnya perilaku merusak diri, seperti penggunaan narkoba, alkohol dan sex bebas,

(5) semakin kaburnya pedoman moral baik dan buruk,

(6) menurunnya etos kerja,

(7) semakin rendahnya rasa hormat kepada orang tua dan guru,

(8) rendahnya rasa tanggung jawab individu dan warganegara

(9)membudayakan ketidakjujuran,

(10) adanya rasa saling curiga dan kebencian diantara sesama.
Kalau kita melihat kasus di Indonesia semua anda tanda diatas ternyata sudah terjadi bahkan pada tingkat yang menyedihkan, munculnya dekadensi moral pada generasi muda adalah cerminan dari krisis karakter dari seluruh bangsa. Hal ini menunjukkan bahwa langkah memperkuat komitmen untuk membentuk karakter generasi muda kita, adalah sesuatu yang amat penting untuk dilakukan.
Sejak usia dini Karakter yang berkualitas perlu dibentuk dan dibina. Usia dini merupakan masa kritis bagi pembentukan karakter seseorang. Para pakar mengatakan bahwa kegagalan penanaman karakter pada seseorang anak sejak usia dini, akan memicu terbentunya pribadi yang bermasalah di masa dewasa kelak. Selain itu, menanamkan moral kepada generasi muda adalah usaha yang strategis. Ada pepatah yang mengatakan bahwa “walaupun jumlah anak anak hanya 25% dari total penduduk, tetapi menentukan 100% masa depan bangsa. Oleh karena itu, penanaman moral melalui pendidikan karakter sedini mungkin kepada anak anak adalah kunci utama unutk membangun bangsa.
Di Universitas Otago di dunedin New Zealand,ada sebuah penelitian pada 1000 anak anak yang diteliti selama 23 tahun dari tahun 1972. Sejak usia 3 tahun anak anak yang menjadi sampel diteliti dan diamati kepribadiannya, selanjutnya diteliti kembali pada usia 18 tahun dan 21 tahun, juga ketika mereka berusia 26 tahun. Dari hasil penelitian menujukkan bahwa anak anak yang ketika usia 3 tahun telah diagnosa sebagai “uncontrollable toddlers “ (anak yang sulit diatur, pemarah dan pembangkang), dan ternyata ketika berusia 18 tahun menjadi remaja yang bermasalah, mempunyai masalah dalam pergaulan, dan agresif. Di usia 21 tahun mereka sulit membinan hubungan sosial dengan orang lain, dan ada juga yang terlibat tindakan kriminal. Begitujuga sebaliknya anak anak yang pada usia 3 tahun sehat jiwanya (well adjust toddlers), ternyata setelah dewasa menjadi orang orang yang berhasil, dan sehat jiwanya. Berdasarkan hasil penelitian tersebut . Tim Utton berkata : “at 3, you are made for life (pada usia 3 tahun kamu dibentuk untuk seumur hidup). Penelitian ini menegaskan pendapat mengenai pentingnya pendidikan karakter diberikan sedini mungkin.
Dengan semakin majunya penelitian dalam perkembangan otak manusia (neuroscience) para pakar semakin yakin bahwa apabila pada usia dini seorang anak tidak diberikan pendidikan , pengasuhan dan stimulasi yang baik maka akan berpengaruh terhadap struktur perkembangan otaknya. Karena perkembangan otak amat sangat pesat terjadi pada usia dibawah 7 tahun, dimana 90% otak sudah terbentuk pada usia ini. Seperti yang dikatakan oleh montesori bahwa otak anak itu ibarat “absorbent mind”, seperti sponge kering apabila dicelupkan kedalam air akan menyerap air dengan cepat. Apabil air yang diserap itu bagus maka baguslah Sponge itu. Dan sebaliknya, apabila yang diserap adalah hal hal yang tidak baik, maka jeleklah sponge itu. Perilaku manusia dikendalikan oleh perintah dari otak. Perilaku-perilaku yang tidak baik, seperti banyak dilakukan para generasi muda kita seperti yang telah disebutkan di atas, menandakan bahwa pikiran yang ada dalam otak mereka adalah hal hal yang tidak baik. Oleh karena itu, mutlak diperlukan pendidikan karakter (membentuk akhlak mulia) sejak usia dini, karena kalau usia anak sudah besar akan sulit karena masa tercepat pembentukan struktur otak sudah terlewati.
Kata karakter berasal dari bahasa Yunani, charassein, yang berarti mengukir sehingga terbentuk sebuah pola. Artinya, mempunyai karakter yang baik adalah tidak secara otomatis dimiliki oleh setiap manusia begitu ia dilahirkan, tetapi merupakan proses panjang melalui pengasuhan dan pendidikan (proses pengukiran). Dalam istilah arab karakter itu mirip dengan akhlak (akar kata khuluk), yaitu tabiat atau kebisaan melakukan hal-hal baik. Al Ghazali menggambarkan bahwa akhlak adalah tingkah laku seseorang yang berasal dari hati yang baik. Jadi dapat di nyatakan pendidikan karakter adalah usaha aktif untuk membentuk kebiasaan baik (habit), sehingganya sifat anak sudah terukir sejak kecil. Dn Tuhan telah menurunkan petunjuk melalui para nabi dan rasul-Nya untuk manusia agar senantiasa berperilaku sesuai yang didinginkan Tuhan sebagai wakil Tuhan dimuka bumi

(Ditulis oleh Ratna Megawangi, Dosen dan Founder Yayasan Warisan Luhur Indonesia, founder Pendidikan Holistik Berbasis Karakter)