Pentingnya Pendidikan Karakter Sejak Usia Dini

Home / Pentingnya Pendidikan Karakter Sejak Usia Dini
Sekolah Karakter

Sekolah Karakter

Banyak pakar mengatakan bahwa kunci sukses keberhasilan suatu negara sangat ditentukan oleh sejauh mana masyarakatnya mempunyai karakter yang kondusif untuk bisa maju yaitu yang disebut “modal social” (social capital). Jadi bukan ditentukan banyaknya sumber daya alam, luas geografis atau jumlah penduduk suatu negara, karena banyak negara yang kaya sumber daya alam , atau luas wilayahnya besar serta berpenduduk banyak tetapi masih dalam kategori sebagai negara miskin, dan masih tertinggal jauh.
Konsep “modal social” ini pertama kali dikenalkan oleh Francis fukuyama (trust the social virtues, and the creation of prosperity, 1995 ), Dalam buku ini Fukuyama menguraikan ciri budaya sebuah masyarakat yang mempunyai keunggulan dalam persaingan global. Fukuyama juga menyatakan persaingan yang ada dewasa ini bukan persaingan antar sistim ideology , tetapi persaingan antar negara yang mempunyai social capital (modal social) tinggi (high trust society) dengan negara yang mempunyai modal social rendah(low trust society). Negara dengan modal social rendah akan kalah dalam persaingan global. Negara yang mempunyai modal sosial tinggi adalah masyarakat yang kebersamaannya tinggi, mempunyai rasa saling percaya (baik vertikal maupun horizontal), serta memiliki tingkat konflik yang rendah.Hal ini bisa terwujud jika tiap individu menjunjung tinggi kebersamaan, kejujuran, kerja keras, dan menjalankan kewajibannya.
Hal senada diungkapkan oleh Thomas Lickona , bahwa kualitas karakter suatu masyarakat dicirikan dari kualitas karakter penduduk berumur mudanya, generasi muda ini dapat menjadi indikator penting apakah sebuah bangsa menjadi maju atau tidak. Lickona mengidentifikasikan sebanyak 10 tanda dari karakter generasi muda yang patut dicemaskan karena akan membuat sebuah bangsa tenggelam dalam kehancuran.
Kesepuluh tanda tersebut adalah :

(1) meningkatnya kekerasan dikalangan remaja,

(2) pengunaan bahasa dan kata kata yang memburuk,

(3) pengaruh peer- group yang kuat dalam tindak kekerasan,

(4) meningkatnya perilaku merusak diri, seperti penggunaan narkoba, alkohol dan sex bebas,

(5) semakin kaburnya pedoman moral baik dan buruk,

(6) menurunnya etos kerja,

(7) semakin rendahnya rasa hormat kepada orang tua dan guru,

(8) rendahnya rasa tanggung jawab individu dan warganegara

(9)membudayakan ketidakjujuran,

(10) adanya rasa saling curiga dan kebencian diantara sesama.
Kalau kita melihat kasus di Indonesia semua anda tanda diatas ternyata sudah terjadi bahkan pada tingkat yang menyedihkan, munculnya dekadensi moral pada generasi muda adalah cerminan dari krisis karakter dari seluruh bangsa. Hal ini menunjukkan bahwa langkah memperkuat komitmen untuk membentuk karakter generasi muda kita, adalah sesuatu yang amat penting untuk dilakukan.
Sejak usia dini Karakter yang berkualitas perlu dibentuk dan dibina. Usia dini merupakan masa kritis bagi pembentukan karakter seseorang. Para pakar mengatakan bahwa kegagalan penanaman karakter pada seseorang anak sejak usia dini, akan memicu terbentunya pribadi yang bermasalah di masa dewasa kelak. Selain itu, menanamkan moral kepada generasi muda adalah usaha yang strategis. Ada pepatah yang mengatakan bahwa “walaupun jumlah anak anak hanya 25% dari total penduduk, tetapi menentukan 100% masa depan bangsa. Oleh karena itu, penanaman moral melalui pendidikan karakter sedini mungkin kepada anak anak adalah kunci utama unutk membangun bangsa.
Di Universitas Otago di dunedin New Zealand,ada sebuah penelitian pada 1000 anak anak yang diteliti selama 23 tahun dari tahun 1972. Sejak usia 3 tahun anak anak yang menjadi sampel diteliti dan diamati kepribadiannya, selanjutnya diteliti kembali pada usia 18 tahun dan 21 tahun, juga ketika mereka berusia 26 tahun. Dari hasil penelitian menujukkan bahwa anak anak yang ketika usia 3 tahun telah diagnosa sebagai “uncontrollable toddlers “ (anak yang sulit diatur, pemarah dan pembangkang), dan ternyata ketika berusia 18 tahun menjadi remaja yang bermasalah, mempunyai masalah dalam pergaulan, dan agresif. Di usia 21 tahun mereka sulit membinan hubungan sosial dengan orang lain, dan ada juga yang terlibat tindakan kriminal. Begitujuga sebaliknya anak anak yang pada usia 3 tahun sehat jiwanya (well adjust toddlers), ternyata setelah dewasa menjadi orang orang yang berhasil, dan sehat jiwanya. Berdasarkan hasil penelitian tersebut . Tim Utton berkata : “at 3, you are made for life (pada usia 3 tahun kamu dibentuk untuk seumur hidup). Penelitian ini menegaskan pendapat mengenai pentingnya pendidikan karakter diberikan sedini mungkin.
Dengan semakin majunya penelitian dalam perkembangan otak manusia (neuroscience) para pakar semakin yakin bahwa apabila pada usia dini seorang anak tidak diberikan pendidikan , pengasuhan dan stimulasi yang baik maka akan berpengaruh terhadap struktur perkembangan otaknya. Karena perkembangan otak amat sangat pesat terjadi pada usia dibawah 7 tahun, dimana 90% otak sudah terbentuk pada usia ini. Seperti yang dikatakan oleh montesori bahwa otak anak itu ibarat “absorbent mind”, seperti sponge kering apabila dicelupkan kedalam air akan menyerap air dengan cepat. Apabil air yang diserap itu bagus maka baguslah Sponge itu. Dan sebaliknya, apabila yang diserap adalah hal hal yang tidak baik, maka jeleklah sponge itu. Perilaku manusia dikendalikan oleh perintah dari otak. Perilaku-perilaku yang tidak baik, seperti banyak dilakukan para generasi muda kita seperti yang telah disebutkan di atas, menandakan bahwa pikiran yang ada dalam otak mereka adalah hal hal yang tidak baik. Oleh karena itu, mutlak diperlukan pendidikan karakter (membentuk akhlak mulia) sejak usia dini, karena kalau usia anak sudah besar akan sulit karena masa tercepat pembentukan struktur otak sudah terlewati.
Kata karakter berasal dari bahasa Yunani, charassein, yang berarti mengukir sehingga terbentuk sebuah pola. Artinya, mempunyai karakter yang baik adalah tidak secara otomatis dimiliki oleh setiap manusia begitu ia dilahirkan, tetapi merupakan proses panjang melalui pengasuhan dan pendidikan (proses pengukiran). Dalam istilah arab karakter itu mirip dengan akhlak (akar kata khuluk), yaitu tabiat atau kebisaan melakukan hal-hal baik. Al Ghazali menggambarkan bahwa akhlak adalah tingkah laku seseorang yang berasal dari hati yang baik. Jadi dapat di nyatakan pendidikan karakter adalah usaha aktif untuk membentuk kebiasaan baik (habit), sehingganya sifat anak sudah terukir sejak kecil. Dn Tuhan telah menurunkan petunjuk melalui para nabi dan rasul-Nya untuk manusia agar senantiasa berperilaku sesuai yang didinginkan Tuhan sebagai wakil Tuhan dimuka bumi

(Ditulis oleh Ratna Megawangi, Dosen dan Founder Yayasan Warisan Luhur Indonesia, founder Pendidikan Holistik Berbasis Karakter)